LAMONGAN, GNews.com- Bencana banjir yang masih melanda Kabupaten Lamongan hingga saat ini membuat sejumlah elemen mahasiswa yang tergabung dalam PMII Lamongan bersuara melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Pemkab dan DPRD Kabupaten Lamongan, senin (17/1).

Dalam aksi tersebut, mereka menganggap pemkab Lamongan tidak bersinergi dengan pemerintah propinsi dan pemerintah pusat dalam penanganan bencana yang terjadi di wilayah Lamongan.

Disebutkan dalam orasinya bahwa waduk dan rawa yang seharusnya sebagai tempat menampung air hujan kini telah beralih fungsi menjadi ladang bisnis, begitu juga banyak penghambat di Daerah Aliran Sungai, juga masyarakat Lamongan terdampak banjir tidak mendapat bantuan ganti rugi maupun pemberian benih ikan/padi sedangkan petani tambak mengalami kerugian kurang lebih 34 Milyar di tanggal 4 Januari 2022.

Baca juga :   Bupati Yes Berharap Musrenbang Anak 2022 Mampu Membawa Dampak Positif Pada Karakter Anak Lamongan

Terkait hal ini Korlap aksi PMII, Slamet menyerukan enam tuntutan diantaranya, Percepat penyelesaian Master Plan tata kelola air dan Mitigasi bencana banjir di Lamongan, Perbaiki tata kelola air di Lamongan, meminta pemerintah menindak tegas penghambat Daerah Aliran Sungai, mengganti kerugian masyarakat terdampak banjir, meminta pemerintah melibatkan mahasiswa dalam hal pengawasan master plan tata kelola air dan mitigasi bencana banjir, serta mengusut tuntas alih fungsi waduk dan rawa.

Advertisements

Aksi unjuk rasa PMII di depan Gedung Pemkab tersebut di temui asisten satu pemerintahan, M. Fahruddin dengan didampingi Kabid Operasi dan Pemeliharaan Dinas PU-SDA Lamongan, Djadi.

Baca juga :   Himka IMM Lamongan Berkolaborasi Bersama KKN IAIN Kediri Dalam Pemajuan Kebudayaan Desa Nelayan Kandangsemangkon

Sebelumnya Fahrudin mempersilahkan perwakilan PMII untuk masuk ke lantai 2 gedung pemkab, namun mereka menolak dan tetap melakukan orasi di jalan depan gedung pemkab Lamongan.

Fahrudin menanggapi terkait penanganan banjir yang dipertanyakan massa aksi.

Advertisements

“untuk penanganan banjir kita sudah berusaha semaksimal mungkin mengupayakan. Penanganan banjir ada 3 kriteria, yang pertama menyimpan sebanyak-banyaknya ke selatan, memperlebar yang didalam Bengawan Jero dan memperlancar arusnya masuk ke Bengawan Solo, konsep dasarnya seperti itu” ujar Fahrudin.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: