LAMONGAN, Ganasnews.com – Kerajinan tikar anyaman pandan yang asli masih bisa kita jumpai di Dusun Mlurus, Desa Jati Pandak Kecamatan Sambeng Kabupaten Lamongan Jawa Timur hingga saat ini.

Dari masa ke masa kerajinan tikar pandan ini tak pernah lekang oleh waktu, usaha turun temurun yang terus ditekuni sebagian besar masyarakat Dusun Mlurus disamping mata pencaharian mereka sebagai petani ini merupakan warisan leluhur.

Saijan (38) salah seorang warga Dusun Mlurus sekaligus sebagai Kepala dusun setempat juga mewarisi usaha kerajinan tikar pandan orang tuanya, dirinya mengaku sudah hampir 2 tahun ini menekuni usaha tikar sebagai pengepul.

Mbah Saki (72), ibunya yang sudah puluhan tahun menjadi pengrajin tikar, meskipun sudah renta terlihat masih sangat cekatan dalam menganyam pandan hingga menjadi lembaran- lembaran tikar yang merupakan kesehariannya.

Baca juga :   Mengenalkan Kembali Kearifan Lokal Melalui Festival Budaya Desa Kandangsemangkon
Advertisements

“Kerajinan turun-temurun, juga karena semua warga pengrajin tikar. Bahan tikarnya juga mudah di dapat” kata Saijan, (9/11).

Menurutnya menganyam daun pandan hingga menjadi lembaran tikar ini tidak memerlukan waktu lama, hanya memerlukan waktu satu hari, khususnya kaum wanita lebih cepat mengerjakannya.

Hasil kerajinan anyaman tikar pandan warga dusun Mlurus, Desa Jati, Kecamatan Sambeng, Kabupaten Lamongan
Hasil kerajinan anyaman tikar pandan warga dusun Mlurus, Desa Jati, Kecamatan Sambeng, Kabupaten Lamongan

Saijan mengungkapkan bahwa dirinya menjadi pengepul dari hasil anyaman tikar ibunya, juga menerima tikar hasil anyaman warganya untuk di jual ke pedagang lokal.

“Bukan saya saja yang jadi pengepul, banyak disini yang jadi pengepul, saya termasuk pengepul baru hanya melayani satu pedagang atau distributor yang ada di Lamongan saja,”terangnya.

Advertisements

Tikar hasil anyaman pengrajin warga Dusun Mlurus ini dikatakan masih asli, hanya dengan model yang bermacam-macam dilihat dari ukurannya, mereka masih butuh bimbingan karena belum mengerti cara memberikan motif yang lebih menarik lagi.

Baca juga :   "Brangsi Festival" Sebagai Wujud Perkembangan IKM Desa Setempat

“Masih asli, karena pengrajin di dusun ini belum bisa membuat tikar yang ada motifnya,” jelas Saijan.

“Tergantung pesanan, Kalau model tikar saya khusus ada ukurannya tidak untuk tidur, kalau yang tikar yang lain biasa buat tidur. Saya hanya melayani pesanan untuk tikar model khusus, untuk tikar model biasa tidak, soalnya pemesan hanya minta yang model khusus, masalahnya orang sudah banyak yang membuat tikar model biasa, sedangkan saya sendiri tidak punya chanelnya untuk menjual tikar biasa,” imbuhnya.

Advertisements

By GNews

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: